Jumat, 20 September 2013

ASPARAGUS, PELUANG DAN BUDIDAYA




                Asparagus officinalis yang lebih dikenal dengan asparagus, merupakan tanaman sayuran yang bergizi tinggi dan memiliki nilai ekonomis tinggi pula.  Bagian yang diambil yaitu anakan  atau tunas baru yang keluar dari rumpun batang utama atau disebut juga rebung.  Rebung asparagus sebenarnya merupakan ujung rizome yang akan tumbuh menjadi individu tanaman baru.  Pemanenan dilakukan setelah rebung mencapai ketinggian 20 – 30 cm sesuai permintaan pasar. Rebung asparagus  tersebut biasanya disajikan sebagai sayuran segar atau makanan dalam kaleng, selain itu juga dapat dibuat sup atau kimlo, jus, ataupun sebagai garnis.
                Asparagus adalah tanaman sub tropis, banyak ditanam di Amerika khususnya Amerika Utara,  bahkan dari beberapa sumber bahwa asparagus berasal dari sana.  Daerah-daerah yang banyak ditanami asparagus antara lain Lembah California, sacramento, Illinois, California Selatan, dan New Jersey. 
Di Indonesia yang beriklim tropis, tanaman asparagus sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, tumbuh di kawasan dataran tinggi dengan ketinggian tempat antara 600 s/d 1.700 m dpl.  Beberapa daerah yang telah membudidayakan asparagus diantaranya Bandungan, Tawangmangu, Dieng, Baturaden (Jawa Tengah), Pegunungan Ijen, Batu, Selecta (Jawa Timur), Puncak, Selabintana, Pangalengan, Lembang (Jawa Barat), Bedegul (Bali), Brastagi (Sumut), dll.  Berbagai jenis asparagus telah dibudidayakan dengan tujuan untuk di panen daunnya sebagai ornament bunga dan ada juga beberapa jenis asparagus yang dijadikan elemen taman.  Sedangkan asparagus yang dipanen rebungnya untuk dijadikan sayuran yaitu dari jenis Asparagus Officinalis.
BPP Garokgek yang berada di kawasan kaki Gunung Burangrang, dengan ketinggian ± 700 m dpl dan berhawa sejuk, mencoba membuat demplot asparagus dalam sekala percobaan.  Jenis yang ditanam yaitu Asparagus Officinalis untuk dipanen rebungnya, lahan yang ditanami seluas 2000 m2 dengan populasi sebanyak ± 2500 rumpun dengan modal awal sebesar Rp. 12.000.000,-.  Tanaman mulai berproduksi dan dipanen pada Bulai Mei 2013 dengan rata-rata produksi mencapai 130 kg/bulan.  Harga pada saat ini mencapai Rp. 35.000,- /kg,  dengan demikian maka pendapatan per bulanya mencapai Rp. 4.550.000,-.  Pemasaran saat ini dikirim ke salah satu koperasi yang ada di Lembang,  adapun permintaannya 20 kg/hari atau sekitar 600 kg/bulan.  Jenis produk berupa rebung segar tanpa grade dengan panjang 30 cm.  mengingat tingginya permintaan, sedangkan yang dapat terpenuhi baru 21,6 persen, maka peluang budidaya asparagus ini cukup bagus sehingga perlu adanya perluasan areal.


TEKNIK BUDIDAYA

A.  Pembibitan
                Periode pembibitan mulai dari penanaman benih sampai pertumbuhan tanaman muda yang siap dipindah ke areal pertanaman selama 3 – 5 bulan.  Benih berupa biji yang diambil dari tanaman cukup tua miniman berumur dua tahun. Tahapan pelaksanaan pembibitan antara lain :
1). Benih direndam dalam air hangat dengan suhu sekitar 300 c selama 24 jam kemudian tiriskan.
2). Siapkan media tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1,  masukan kedalam polybag ukuran lebar 7 cm dan tinggi 12 cm.
3). Susun polybag pada bedengan yang telah disediakan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai keadaan tempat.
4). Tanam benih pada polybag masing-masing satu butir, kemudian tutup dengan karung goni atau jerami dengan tujuan agar waktu penyiraman benih tidak hilang.
5). Tutup areal pembibitan dengan platik UV untuk melindungi atau menahan guyuran air hujan.
6). Lakukan penyiraman sesuai kebutuhan
7). Pembukaan karung goni atau jerami dilakukan apabila benih sudah mulai tumbuh.
8). Lakukan pemangkasan terhadap batang yang mulai tua agar merangsang tumbuh batang baru, pemangkasan dilakukan berulang-ulang agar batang yang tumbuh baru semakin besar dengan menyisakan 2 – 3 batang dalam setiap rumpunnya.
B. Penanaman
1). Pengolahan tanah dilakukan dengan cara dibajak atau dicangkul sedalam 30 cm
2). Campurkan pupuk kandang dengan dosis 5 – 10 ton / ha, kemudian buat petakan  dengan lebar 100 cm dan panjang sesuai keadaan lahan, setiap petakan dipisahkan dengan parit selebar 30 cm.
3). Tanam bibit  dengan jarak 20 – 25 cm dari pinggir petakan, dalam satu petakan terdapat dua jalur tanaman.
C. Pemeliharaan Tanaman
1). Lakukan penyiraman terutama pada waktu musim kemarau.
2). Pemupukan dilakukan 3-6 bulan sekali dengan menggunakan pupuk kandang, cara pemupukan yaitu dengan memasukan pupuk di bagian tengah petakan kemudian ditimbun kembali (hindari penggunaan pupuk kimia untuk mendapatkan produk yang sehat dan aman).
3). Lakukan pemangkasan secara berkala terhadap batang yang telah mulai tua dengan menyisakan 2 – 3 batang untuk setiap rumpunnya.
4). Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila terjadi serangan dengan menggunakan pestisida nabati.
D. Panen dan Pascapanen
1). Pemanenan dilakukan jika umur tanaman telah mencapai 4 – 6 bulan, biasanya rebung telah mencapai diameter 0,7 – 1,0 cm
2). Panen dilakukan secara selektif yaitu dengan cara mencabut rebung yang telah mencapai ketinggian 30 cm atau lebih.
3). Rebung dikumpulkan kemudian dicuci dengan air bersih
4). Rebung yang sudah bersih kemudian disusun dalam tempat penyimpanan, yang panjangnya lebih dari 30 cm dipotong bagian bawahnya, kemudian direffing setiap 1-5 kg. 

"SELAMAT MENCOBA"

Selasa, 17 September 2013

Laporan

SOSIALISASI BENIH BERSUBSIDI
WKBPP GAROKGEK KEC. KIARAPEDES


              Benih merupakan komponen awal dari kegiatan budidaya tanaman, artinya bila kita menanam benih yang berkualitas baik maka hasilnyapun akan baik, sebaliknya jika benih yang kita tanam berkualitas rendah atau jelek maka hasilnyapun akan jelek juga.  Betapa besarnya peranan benih dalam proses budidaya, sehingga dianjurkan penggunaan benih yang benar-benar berkualitas baik serta dapat dipertanggung-jawabkan. 
Pelaksanaan kegiatan budidaya padi sawah di Wilayah Kerja BPP Garokgek , sejak Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012 umumnya para petani telah menggunakan benih bermutu serta berlabel yang diperoleh secara gratis baik melalui paket kegiatan SL-PTT maupun bantuan langsung benih unggul (BLBU).  Selama kurun waktu tersebut produktivitas  terus mengalami peningkatan sehingga memberikan kontribusi terhadap pencapaian swasembada beras jilid 2.
Seiring dengan perubahan kebijakan pemerintah serta ingin lebih mendewasakan para petani maka mulai Tahun 2012, benih tidak lagi diberikan secara gratis namun harus dibayar secara tunai.  Dalam pembelian benih langsung oleh petani khususnya benih padi inbrida, tidak sepenuhnya dibayar oleh para petani tapi hanya 25 persen dari HET sebab pemerintah memberikan subsidi sebesar 75 persen.  Jadi benih yang harus dibayar hanya Rp. 2.024,- untuk setiap kilogramnya.
Dilihat dari nilai memang cukup murah terutama bila dibandingkan harga gabah konsumsi yang saat ini sudah di atas Rp. 4.000,-/kg.  Namun kebiasaan para petani yang selama ini selalu mendapat bantuan benih gratis, tentu hal ini sangat membingungkan dan sulit diterima.  Untuk itu maka perlu adanya sosialisasi sampai ke tingkat petani tentang prosedul pembelian benih tersbut.
Sosialisasi benih bersubsidi di Wilayah Kerja BPP Garokgek telah dilaksanakan pada tanggal 17 September 2013 bertempat di Aula Pertemuan BPP.  Kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua kelompok tani se Kecamatan Kiarapedes sebanyak 37 orang.  Teknik pelaksanaan kegiatan sosialisasi berupa penyampaian materi tentang benih padi bersubsidi serta tata cara pembeliannya kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan Tanya jawab.  Hasil diskusi terdapat beberapa saran dan usulan serta kesepakatan di antaranya :
1. Seluruh kelompoktani akan mengajukan usulan pembelian benih yang diawali dengan pengisian 
    format DU-PBB
2. Anggota kelompok yang tidak memiliki dana untuk pembelian benih, pembayarannya 
    bekerjasama dengan lembaga keuangan PUAP.
3. Agar dibuat surat edaran oleh BPP tentang benih bersubsidi agar lebih diketahui oleh para petani.
S

Jumat, 13 September 2013

KEDELAI versus MONETER



     Belakangan ini kedelai ramai dibicarakan baik di media cetak maupun media elektronik,  tidak kurang baik pengamat ekonomi, pertanian, bahkan politik ikut menyoroti bak primadona.  Kedelai merupakan bahan baku berbagai produk olahan seperti tahu, tempe, kecap, susu, dll yang banyak diminati hampir semuan kalangan masyarakat.
        Ketika harga kedelai melonjak, semua produsen produk olahan  tersebut  bereaksi seolah sesuatu sedang mengancam kebangkrutan.  Produsen produk olahan kedelai yang hampir sebagian besar home industy, merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku karena harus merogoh kocek lebih dalam tanpa jaminan kenaikan harga yang signifikan.
      Kenaikan kedekai saat ini lebih diakibatkan oleh situasi moneter, dimana nilai tukar rupiah terjadi penurunan (melemah) terhadap US Dollar yang tadinya kisaran Rp. 9.000 naik pada kisaran Rp 12.000. Dengan demikian maka seluruh bahan baku yang bersumber imfort termasuk kedelai mengalami kenaikan harga secara absolute.
        Ketika harga kedelai naik, swasembada kedelai dalam negeri  dipertanyakan,   benarkah kita telah swasembada, adakah program intensifikasi guna percepatan swasenbada kedelai ?.  Program empat sukses kementerian pertanian salah satunya mentargetkan  swasembada dan swasembada yang diantaranya yaitu komoditi kedelai.  Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program diluncurkan khususnya dalam percepatan swasembada kedelai antara lain, optimalisasi lahan kering,  opsus kedelai, SL-PTT Kedelai, dll.
         Dalam implentasinya terutama di beberapa daerah dihadapkan dengan berbagai kendala dan hambatan antara lain :
1.       Kesesuaian lahan
Tanaman kedelai menghendaki lahan subur agak mengandung kapur dengan dukungan iklim yang agak panas, sehingga tidak semua daerah cocok untuk tanaman kedelai.
2.       Ketersediaan lahan
Lahan yang tersedia tidak bertambah, artinya kita berusahatani pada lahan yang itu-itu juga bahkan cenderung berkurang akibat alih fungsi menjadi non pertanian.  Selain itu juga jika dipaksakan perluasan tanaman kedelai, akan terjadi penurunan produksi komoditi lainnya.
3.       Budaya petani
Petani kita umumnya terlalu akrab dengan budidaya padi sehingga untuk beralih kepada usaha budidaya komoditi lain cukup repot.  Banyak petani yang telah mencoba budidaya kedelai, tidak selesai, biasanya kedelai dipanen muda untuk dijual konsumsi dan ini secara ekonomis lebih menguntungkan.
4.       Gangguan OPT
Gangguan Organisma Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kedelai cukup tinggi terutama ulat penggerek polong sehingga sering terjadi gagal panen.
    Mengingat kendala dan hambatan tersebut diatas, perlu kiranya penataan kembali serta lebih mengintensifkan pembinaan di lapangan.  Berbagai hal yang perlu diperhatikan demi terwujudnya swasembada kedelai diantaranya, pemetaan komoditi, pembukaan lahan baru, entrepreneurisasi petani, pengadaan varietas yang tahan OPT. (KUSMANA, SST)