Jumat, 13 September 2013

KEDELAI versus MONETER



     Belakangan ini kedelai ramai dibicarakan baik di media cetak maupun media elektronik,  tidak kurang baik pengamat ekonomi, pertanian, bahkan politik ikut menyoroti bak primadona.  Kedelai merupakan bahan baku berbagai produk olahan seperti tahu, tempe, kecap, susu, dll yang banyak diminati hampir semuan kalangan masyarakat.
        Ketika harga kedelai melonjak, semua produsen produk olahan  tersebut  bereaksi seolah sesuatu sedang mengancam kebangkrutan.  Produsen produk olahan kedelai yang hampir sebagian besar home industy, merasa kesulitan untuk mendapatkan bahan baku karena harus merogoh kocek lebih dalam tanpa jaminan kenaikan harga yang signifikan.
      Kenaikan kedekai saat ini lebih diakibatkan oleh situasi moneter, dimana nilai tukar rupiah terjadi penurunan (melemah) terhadap US Dollar yang tadinya kisaran Rp. 9.000 naik pada kisaran Rp 12.000. Dengan demikian maka seluruh bahan baku yang bersumber imfort termasuk kedelai mengalami kenaikan harga secara absolute.
        Ketika harga kedelai naik, swasembada kedelai dalam negeri  dipertanyakan,   benarkah kita telah swasembada, adakah program intensifikasi guna percepatan swasenbada kedelai ?.  Program empat sukses kementerian pertanian salah satunya mentargetkan  swasembada dan swasembada yang diantaranya yaitu komoditi kedelai.  Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program diluncurkan khususnya dalam percepatan swasembada kedelai antara lain, optimalisasi lahan kering,  opsus kedelai, SL-PTT Kedelai, dll.
         Dalam implentasinya terutama di beberapa daerah dihadapkan dengan berbagai kendala dan hambatan antara lain :
1.       Kesesuaian lahan
Tanaman kedelai menghendaki lahan subur agak mengandung kapur dengan dukungan iklim yang agak panas, sehingga tidak semua daerah cocok untuk tanaman kedelai.
2.       Ketersediaan lahan
Lahan yang tersedia tidak bertambah, artinya kita berusahatani pada lahan yang itu-itu juga bahkan cenderung berkurang akibat alih fungsi menjadi non pertanian.  Selain itu juga jika dipaksakan perluasan tanaman kedelai, akan terjadi penurunan produksi komoditi lainnya.
3.       Budaya petani
Petani kita umumnya terlalu akrab dengan budidaya padi sehingga untuk beralih kepada usaha budidaya komoditi lain cukup repot.  Banyak petani yang telah mencoba budidaya kedelai, tidak selesai, biasanya kedelai dipanen muda untuk dijual konsumsi dan ini secara ekonomis lebih menguntungkan.
4.       Gangguan OPT
Gangguan Organisma Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kedelai cukup tinggi terutama ulat penggerek polong sehingga sering terjadi gagal panen.
    Mengingat kendala dan hambatan tersebut diatas, perlu kiranya penataan kembali serta lebih mengintensifkan pembinaan di lapangan.  Berbagai hal yang perlu diperhatikan demi terwujudnya swasembada kedelai diantaranya, pemetaan komoditi, pembukaan lahan baru, entrepreneurisasi petani, pengadaan varietas yang tahan OPT. (KUSMANA, SST)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar