Belakangan
ini kedelai ramai dibicarakan baik di media cetak maupun media elektronik, tidak kurang baik pengamat ekonomi,
pertanian, bahkan politik ikut menyoroti bak primadona. Kedelai merupakan bahan baku berbagai produk
olahan seperti tahu, tempe, kecap, susu, dll yang banyak diminati hampir semuan
kalangan masyarakat.
Ketika
harga kedelai melonjak, semua produsen produk olahan tersebut bereaksi seolah sesuatu sedang mengancam
kebangkrutan. Produsen produk olahan
kedelai yang hampir sebagian besar home industy, merasa kesulitan untuk
mendapatkan bahan baku karena harus merogoh kocek lebih dalam tanpa jaminan
kenaikan harga yang signifikan.
Kenaikan
kedekai saat ini lebih diakibatkan oleh situasi moneter, dimana nilai tukar
rupiah terjadi penurunan (melemah) terhadap US Dollar yang tadinya kisaran Rp.
9.000 naik pada kisaran Rp 12.000. Dengan demikian maka seluruh bahan baku yang
bersumber imfort termasuk kedelai mengalami kenaikan harga secara absolute.
Ketika
harga kedelai naik, swasembada kedelai dalam negeri dipertanyakan,
benarkah kita telah swasembada,
adakah program intensifikasi guna percepatan swasenbada kedelai ?. Program empat sukses kementerian pertanian
salah satunya mentargetkan swasembada
dan swasembada yang diantaranya yaitu komoditi kedelai. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program
diluncurkan khususnya dalam percepatan swasembada kedelai antara lain, optimalisasi
lahan kering, opsus kedelai, SL-PTT
Kedelai, dll.
Dalam
implentasinya terutama di beberapa daerah dihadapkan dengan berbagai kendala dan
hambatan antara lain :
1. Kesesuaian
lahan
Tanaman kedelai
menghendaki lahan subur agak mengandung kapur dengan dukungan iklim yang agak
panas, sehingga tidak semua daerah cocok untuk tanaman kedelai.
2. Ketersediaan
lahan
Lahan yang
tersedia tidak bertambah, artinya kita berusahatani pada lahan yang itu-itu
juga bahkan cenderung berkurang akibat alih fungsi menjadi non pertanian. Selain itu juga jika dipaksakan perluasan
tanaman kedelai, akan terjadi penurunan produksi komoditi lainnya.
3. Budaya
petani
Petani kita
umumnya terlalu akrab dengan budidaya padi sehingga untuk beralih kepada usaha
budidaya komoditi lain cukup repot. Banyak
petani yang telah mencoba budidaya kedelai, tidak selesai, biasanya kedelai
dipanen muda untuk dijual konsumsi dan ini secara ekonomis lebih menguntungkan.
4. Gangguan
OPT
Gangguan Organisma
Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman kedelai cukup tinggi terutama ulat
penggerek polong sehingga sering terjadi gagal panen.
Mengingat kendala dan hambatan tersebut diatas, perlu kiranya penataan kembali serta lebih mengintensifkan pembinaan di lapangan. Berbagai hal yang perlu diperhatikan demi terwujudnya swasembada kedelai diantaranya, pemetaan komoditi, pembukaan lahan baru, entrepreneurisasi petani, pengadaan varietas yang tahan OPT. (KUSMANA, SST)
Mengingat kendala dan hambatan tersebut diatas, perlu kiranya penataan kembali serta lebih mengintensifkan pembinaan di lapangan. Berbagai hal yang perlu diperhatikan demi terwujudnya swasembada kedelai diantaranya, pemetaan komoditi, pembukaan lahan baru, entrepreneurisasi petani, pengadaan varietas yang tahan OPT. (KUSMANA, SST)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar